Chat Box

Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

9/13/13

Potensi Keberagaman Indonesia

Ini artikel saya yang pernah dimuat di Koran Sindo tanggal 23 Juli 2013


KEBERAGAMAN MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN

Indonesia terletak di antara dua samudera dan dua benua. Membentang dari timur ke barat membentuk sebuah gugusan kepulauan yang sangat besar. Luas daratan negara Indonesia sebesar 1.922.570 km persegi. Sedangkan luas lautan seluas 3.257.483 km persegi. Dalam hamparan yang luas terkandung kekayaan alam yang belum semua terjamah potensinya. Minyak bumi, gas alam serta mineral tambang belum sepenuhnya terungkap keberadaannya.

Kondisi geografis Indonesia yang berbeda-beda membuat perbedaan iklim dan unsur-unsurnya di setiap wilayah Indonesia. Wilayah dataran tinggi biasanya bersuhu rendah atau dingin. Untuk wilayah dataran pantai pada umumnya bersuhu tinggi atau panas. Kemudian perbedaan itu diperkaya dengan berbedanya curah hujan dan unsur-unsur iklim lain seperti kelembaban udara, kecepatan angin dan banyaknya radiasi matahari. Perbedaan kondisi alam yang demikian bervariasi membuat tanaman yang tumbuh di Indonesia sangat beragam. Hampir setiap daerah memiliki tanaman yang menjadi ciri khas di daerah tersebut. Hal itu terjadi karena setiap tanaman memiliki persyaratan tumbuh yang berbeda-beda. Ini yang menyebabkan suatu tanaman hanya akan tumbuh maksimal di daerah tertentu. Meskipun demikian, kita tetap bisa menumbuhkan tanaman tanpa memperhatikan syarat tumbuh tanaman karena tanah Indonesia pada dasarnya memang sangat subur namun hasilnya tidak maksimal.

Keberagaman flora di Indonesia merupakan potensi bagi setiap daerah untuk meningkatkan perekonomiannya. Jika suatu daerah fokus mengembangkan produk unggulan dari sektor pertanian dalam arti luas seperti, pertanian pangan, holtikultura, kehutanan, peternakan dan perikanan, maka kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut akan terangkat. Contohnya, suatu daerah memiliki potensi menghasilkan tanaman singkong dengan hasil produksi lebih besar dari daerah lainnya. Maka pemerintah daerah tersebut harus memberikan perhatian ekstra terhadap komoditi singkong. Perhatian harus diberikan mulai dari mempersiapkan lahan, menanam, panen, pengolahan hingga pemasarannya. Masyarakat di daerah tersebut harus diberikan pengetahuan tambahan agar dapat meningkatkan nilai tambah dari produk singkong. Produksi singkong yang melimpah dapat disalurkan ke daerah yang kekurangan pasokan singkong.

Supaya dapat berjalan dengan baik, semua harus dilandasi dengan komitmen yang kuat antara pemerintah daerah, pengusaha, petani dan masyarakat yang berada di daerah tersebut. Pemerintah bertanggung jawab dalam mengawasi, memberi pengarahan dan membuat kebijakan. Pengusaha berperan dalam menumbuhkan iklim usaha yang sehat. Petani sebagai pemain utama dapat bekerjasama dengan pengusaha dari berbagai bidang yang terkait dalam menyediakan faktor produksi, distribusi hasil produksi serta pengolahan produk segar.


Itu baru satu komoditi dari sektor pertanian. Belum komoditi lain seperti, jagung, jeruk, durian, cabai, melon, tomat dan produk pertanian lainnya. Kita belum berbicara sektor perikanan yang memiliki kekayaan sangat besar mengingat luasnya laut Indonesia. Hebatnya lagi, keragaman Indonesia tidak hanya ada pada keragaman flora dan faunanya. Masih ada keragaman berdasarkan perbedaan kebudayaan di setiap daerah. Semua itu juga memberikan potensi pemasukan bagi perekonomian Indonesia melalui sektor pariwisata. Untuk itu mari kita manfaatkan keberagaman yang ada untuk meningkatkan kesejahteraan!     

4/9/13

Memajukan Pertanian Indonesia


Ini artikel yang saya kirim ke Koran Sindo, dengan keyakinan pasti tembus. Tapi ternyata, alamat emailnya sudah ganti..saya kurang info karena di Purwokerto ga ada Koran Sindo..tapi ga apa-apa yang penting bisa dibaca di sini. hehehehe...

nb:komentar, kritik dan sarannya ditunggu... :P


Sekor pertanian memegang peranan penting dalam kesejahteraan rakyat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada semester I tahun 2012, sektor pertanian menyumbang sekitar 15 % dari keseluruhan Produk Domenstik Bruto (PDB) Indonesia. Sektor pertanian juga menyerap sekitar 41,2 % dari jumlah keseluruhan tenaga kerja per Februari 2012. Selain itu, sektor pertanian merupakan salah satu sumber devisa melalui kegiatan ekspor. Namun, yang terpenting, sektor pertanian merupakan tulang punggung ketahanan pangan Indonesia.

Kondisi pertanian Indonesia saat ini sangat miris. Kita masih mengimpor berbagai komoditas pertanian dari negara lain. Bahkan, untuk komoditas yang di atas kertas bisa terpenuhi oleh   produksi dalam negeri, seperti beras, kita masih impor. Kegiatan impor berpotensi memperbesar defisit neraca perdagangan sehingga berdampak pada turunnya pertumbuhan ekonomi nasional. Selain itu, kesejahteraan rakyat yang sebagian besar berkerja di sektor pertanian tidak mengalami peningkatan berarti.

Banyak upaya yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan sektor pertanian sebagai kekuatan utama dalam mencapai kemakmuran bangsa. Untuk meningkatkan produksi dalam negeri misalnya, Pemerintah bisa membuka lahan pertanian baru dalam jumlah yang besar. Selain itu, bisa juga dengan memanfaatkan lahan marjinal yang terhampar luas di Indonesia. Luas lahan marjinal diperkirakan seluas 126 juta hektar, jauh lebih luas dari lahan pertanian yang sudah ada yaitu sekitar 17,9 juta hektar.

Produksi juga dapat  ditingkatkan dengan merekayasa genetika tanaman. Dengan rekayasa genetika, akan diperoleh varietas yang memiliki produktivitas yang lebih tinggi dari varietas yang sudah ada sebelumnya. Teknik budidaya juga berpengaruh pada hasil produksi. Contohnya petani padi yang menerapkan teknik System of Rice Intensification (SRI). Dengan metode SRI, produktivitas dapat meningkat 50 %.

Semua itu tidak akan berarti tanpa perhatian penuh dari Pemerintah. Langkah yang diambil Pemerintah dapat berupa kebijakan yang melindungi petani dari kerugian, ketegasan dalam hal perizinan konversi lahan, memberikan bantuan dana penelitian,  memberikan suntikan modal untuk petani, meningkatkan wawasan petani dan mereklamasi lahan-lahan kritis

Masyarakat juga diharapkan untuk tidak menggunakan lahan pertanian untuk kepentingan pribadi atau bisnis semata. Untuk itu diperlukan kesadaran masyarakat akan pentingnya lahan pertanian. 

Jumlah penduduk Indonesia pada saat ini sekitar 240 juta orang. Produksi gabah kering giling (GKG) tahun 2012 sekitar 68 juta ton. Angka tersebut diperoleh dari 13,4 juta hektar luas panen padi dengan produktivitas rata-rata 5,1 ton GKG/ha. Jika rendemen beras sebesar 65%, maka dihasilkan sekitar 44,8 juta ton beras. Konsumsi beras per kapita per tahun sebesar 139 kg (BPS, 2010), maka dengan demikian dalam satu tahun dibutuhkan pasokan beras sebanyak 33,36 juta ton.

Jika setiap tahun laju pertumbuhan jumlah penduduk sebesar 1,5 % , luas panen dan produktivitas padi tetap, konsumsi beras per kapita per tahun tetap, maka dipastikan pada tahun 2050 Indonesia mengalami krisis beras. Itu baru komoditi beras, bagaimana dengan komoditas lain seperti bawang merah, bawang putih dan kedelai? Itu baru masalah ketahanan pangan, bagaimana dengan kesejahteraan petani? Padahal sebagaian besar penduduk miskin di Indonesia berprofesi sebagai buruh tani. Untuk itu, memajukan sektor pertanian sangat penting. Ini adalah pekerjaan rumah (PR) kita semua.

3/16/13

Rukmakala


Tulisan ini sebenarnya sudah lama mau saya posting. Tapi baru sempat sekarang hehehe...selamat membaca.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------


Pemilu baru akan dimulai tahun depan. Semua pelaku politik mulai merapatkan barisan. Membenahi yang dirasa kurang beres, memperbaiki yang dirasa kurang baik. Meskipun masih ada waktu kurang lebih satu tahun, para elite politik tidak ingin membuang-buang waktu. Mungkin yang ada dalam benak mereka, semakin cepat berbernah semakin besar peluang memenangi pemilu 2014. Salah satu aksi “beres-beres’ yang hangat dibicarakan adalah tindakan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengambil alih Partai Demokrat (PD). SBY dan beberapa elite PD menilai Anas sebagai biang keladi merosotnya elektabilitas PD.

Bertindak sebagai ketua majelis tinggi partai, SBY meminta ketua umum PD, Anas Urbaningrum untuk fokus terhadap kasus dugaan korupsi yang menimpa Anas.  Memang tidak ada salahnya mengurus parpol, namun bila dilakukan dengan terburu-buru dapat menjadi bumerang. Banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh Presiden berserta jajaran kementerian. Pertumbuhan ekonomi yang menurun dan tidak meratanya kesejahteraan rakyat merupakan bagian dari pekerjaan rumah itu.

Banyak yang mempertanyakan keseriusan presiden dan kabinet dalam menyikapi masalah negara di tahun politik ini. Mengapa presiden harus turun tangan membenahi parpolnya?. Mengapa menteri kabinet juga ikut sibuk mengurus parpol?.

Di balik setiap tindakan manusia terdapat beribu alasan logis dan faktor yang berpengaruh. Salah satu faktor yang mungkin berpengaruh adalah Rukmakala. Dalam dunia perwayangan, ada sebuah lakon yang berjudul Dewa Ruci. Dalam kisah tersebut seorang ksatria bernama Bima ditugaskan gurunya untuk mencari air kehidupan yang dapat menuntunnya menuju kesempurnaan sejati.

Pada perjalanan yang penuh rintangan tersebut Bima bertemu dua raksasa. Salah satu dari dua raksasa itu bernama Rukmakala. Rukma berarti emas yang identik dengan harta dan tidak jauh perkara takhta, sedangkan Kala berarti raksasa. Rukmakala boleh jadi merupakan simbol harta dan takhta yang bisa menjadi penghambat atau penggoda manusia dalam mencapai tujuan mulia.

Pada setiap tahun politik banyak elite parpol yang mengumbar janji-janji yang isinya sangat mulia. Entah dilandasi hati nurani atau sekedar ingin membesarkan Rukmakala dalam diri, yang jelas menjelang tahun politik berikutnya tujuan mulia yang dulu digaungkan tidak terdengar lagi. Mungkin yang mereka lihat adalah Rukmakala yang sudah menjadi besar, sehingga perlu waktu dan tempat ekstra untuk memeliharanya. Apapun mereka lakukan demi mempertahankan raksasa tersebut. Berbanding terbalik dengan yang dilakukan Bima, sebagai seorang ksatria yang memiliki tujuan mulia, dia berani melawan raksasa tersebut. Dengan dilandasi kesungguhan hati dan niat tulus, Bima mampu mengalahkan Rukmakala dan melewati berbagai rintangan hingga akhirnya mencapai kesempurnaan hidup.

Alangkah indahnya jika orang-orang yang mau mengurus negara ini adalah mereka yang jujur, adil, tulus, ikhlas dan bersungguh-sungguh menjalani pengabdiannya. Mereka yang mampu mengalahkan Rukmakala dalam diri sendiri, akan mendapatkan pengakuan dan dukungan rakyat tanpa perlu kampanye. Tidak perlu memikirkan elektabilitas yang menurun karena rakyat tidak membutuhkannya. Rakyat hanya butuh kerja nyata seorang pemimpin. Terlepas dari fokus atau tidaknya presiden dan kabinet dalam menggapai tujuan mulianya, rakyat Indonesia selalu berharap memiliki pemimpin yang tidak silau harta dan takhta.

2/2/13

Narkoba Musuh Umat Manusia

tulisan ini juga merupakan artikel yang saya kirim ke koran SINDO. tulisan ini dimuat pada SINDO edisi 02/02/2013 halaman 9.

selamat membaca :)



Belakangan ini media cetak maupun elektronik banyak yang memberitakan keberhasilan Badan Narkotika Nasional (BNN) menangkap belasan orang yang diduga sedang pesta narkoba. Beberapa orang diantaranya adalah public figure yang sudah tidak asing bagi kita. Terlepas dari keterlibatan mereka dalam pesta tersebut, kita harus meningkat kewaspadaan karena semakin banyak saja tokoh masyarakat yang berurusan dengan barang haram tersebut. Narkoba tidak hanya meracuni kehidupan masyarakat biasa tetapi juga menyebar di kalangan artis, oknum pejabat sampai oknum penegak hukum. Adanya oknum penegak hukum yang ikut mengedarkan narkoba membuktikan bahwa narkoba dapat menggelapkan mata seseorang yang seharusnya paling mengerti akan bahaya narkoba.

Meluasnya penggunaan narkoba ini tentu merupakan masalah besar bagi negara ini. Narkoba ibarat senjata biologis pemusnah massal yang sangat efektif. Memusnahkan jiwa tetapi tidak merusak infrastruktur. Itulah senjata yang paling didambakan dalam kasus-kasus sengketa antar negara yang bermusuhan. Tetapi saya tidak akan membahas masalah sengketa ataupun invasi militer, yang ingin saya tekankan adalah narkoba ibarat senjata biologis berupa virus yang dapat merusak dan menghancurkan sel-sel kebangsaan. Layaknya virus HIV, narkoba merusak antibodi sehingga seseorang yang terinfeksi virus ini dapat terserang penyakit dengan mudah.

Antibodi – antibodi yang terdapat dalam tubuh bangsa ini adalah pemuda – pemuda penerus bangsa yang hidup di negara ini. Mereka adalah sasaran dari “virus” narkoba. Jika para pemuda sudah dibawah pengaruh “virus” narkoba ini, penyakit-penyakit kebangsaan akan mudah masuk menghancurkan bangsa ini. Langkah yang harus kita lakukan adalah membasmi “virus” tersebut dan mencegah agar “virus” ini tidak masuk ke tubuh bangsa. Untuk membasmi dan mencegah penyebaran “virus” narkoba diperlukaan suatu langkah nyata yang dapat menghentikan peredaran barang haram ini. Salah satu contohnya adalah dengan memotong jalur distribusi narkoba sehingga tidak masuk ke Indonesia. Kemudian diikuti dengan memberantas mafia – mafia narkoba sampai ke sarang-sarangnya. Langkah-langkah tersebut belum cukup untuk menghentikan penyebaran “virus” ini.

Narkoba memiliki sesuatu yang membuat seseorang rela dirusak olehnya. Narkoba menawarkan ilusi yang tidak terbatas bagi pemakainya sehingga mereka mendapatkan apa yang tidak bisa diraih dalam kenyataan sesungguhnya. Selain itu keuntungan finansial yang didapat dari bisnis narkoba ini sangat besar sehingga mereka yang senang mencari jalan pintas memilih berkecimpung di bisnis haram ini. Kedua hal tersebut yang membuat narkoba tetap eksis dan sulit diberantas. Jika demikian, apa yang menyebabkan seseorang mau meracuni diri dengan narkoba dan berani mengambil risiko dengan menjualnya?. Padahal mereka tahu narkoba dapat merusak badan dan menjualnya merupakan perbuatan yang melanggar hukum. Jika ditelaah lebih lanjut, sumber permasalahnya adalah kurang mampunya seseorang untuk berpikir jernih. Untuk mampu berpikir jernih, seseorang harus memiliki pikiran yang positif. Pikiran yang postif tumbuh dari pendidikan moral yang mendarah daging. Orang yang bermoral akan selalu berpegang pada kebenaran dan tidak mudah digoyahkan oleh iming-iming kekayaan.

Pendidikan moral sebaiknya diberikan pada anak sejak dini. Anak-anak harus diberikan informasi akan bahaya narkoba. Jika pada saat anak-anak sudah mengetahui bahaya narkoba, nantinya pada saat dewasa mereka dapat menepis godaan untuk mencoba narkoba. Jadi tindakan yang dilakukan selain membasmi dan mencegah beredarnya narkoba adalah penanaman pendidikan moral pada setiap indvidu penerus bangsa. Narkoba merupakan musuh umat manusia. Setiap orang berperan dalam memeranginya.

Bangsa Yang Dermawan

Tulisan ini merupakan artikel yang saya kirim ke koran SINDO..tapi gagal tembus hehehe..daripada mengendap di harddisk, saya post disini saja. 

selamat membaca :)




Pinjaman dana bantuan sebesar USD 1 Miliar ke IMF menuai pro dan kontra. Pihak yang pro beralasan bantuan yang bersumber dari  cadangan devisa itu tidak akan mempengaruhi perekonomian negara karena cadangan devisa yang  jumlahnya USD 111,5 miliar per Mei 2012 itu tidak akan hilang. Hal tersebut dikarenakan bantuan USD 1 Miliar itu diimplementasikan dalam bentuk pembelian surat berharga IMF. Ada juga yang menulis bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan dibawah.

Sedangkan di pihak yang kontra berpendapat bahwa Indonesia yang sebagian besar penduduknya berada di bawah garis kemiskinan tidak pantas membantu negara yang rakyatnya berpenghasilan dan memiliki indeks pembangunan yang lebih tinggi. Selain itu ada juga yang merasa Indonesia tidak perlu menyumbang bantuan ke IMF karena dahulu IMF pernah menyusahkan Indonesia dengan pemberian pinjaman yang kesepakatannya mengandung banyak syarat yang merugikan Indonesia.

Sebagai rakyat Indonesia apa sikap yang seharusnya kita ambil?. Menyetujui pemberian pinjaman ke IMF dengan alasan bahwa lebih baik memberi daripada meminta, atau menolak dengan dalih “buat apa membantu orang yang dahulu menyusahkan kita?”. Tentunya kita harus memutuskan sesuatu dengan pikiran yang jernih dan hati yang lapang. Jangan sampai ada penyesalan karena memutuskan sesuatu dengan emosi apalagi diliputi dendam kesumat.

Jika diminta memberikan keputusan antara menyetujui atau menolak, saya lebih memilih menyetujui pemberian pinjaman. Saya menyetujui karena beberapa hal, yang pertama sumber dana yang berasal dari cadangan devisa tidak hilang, artinya cadangan devisa tidak berkurang. Yang kedua pemerintah tidak memberikan pinjaman dengan bunga nol persen sehingga ada kemungkinan cadangan devisa akan bertambah dari pembayaran bunga tersebut. Dan yang terpenting adalah sikap membantu yang dimiliki Indonesia sangat menaikan kewibawaan bangsa kita di mata dunia.

Bangsa Indonesia suka membantu bukan karena “ada apanya” tetapi karena memang perilaku suka membantu atau tolong menolong merupakan sesuatu yang sebenarnya sudah ada dalam diri bangsa Indonesia. Dengan begini dunia akan tahu bahwa inilah Indonesia, negara yang sudah mandiri dan suka menolong sesama. Tunjukan bahwa kita bukan bangsa yang pelit, kita bangsa besar yang seharusnya menjadi panutan bangsa – bangsa lain. Jika masih saja perhitungan atau ngambek  karena merasa dicurangi di masa lalu, kapan kita akan menjadi bangsa yang dewasa?. Tidak ada batasan kaya atau miskin dalam memberikan bantuan. Yang namanya bantuan pasti akan bermanfaat walaupun bantuan tersebut digunakan untuk menyelamatkan pihak – pihak yang pernah menjerumuskan Indonesia.

Jadikan momen pemberian pinjaman ini sebagai ajang menunjukan identitas bangsa, jangan sampai bangsa kita dicap bangsa yang pelit dan harus selalu diberikan bantuan. Ada yang kesusahan, yaa kita bantu. Tak perlu pusing-pusing mengungkit apa yang telah dilakukan orang kepada kita apa lagi mengaitkan dengan teori konspirasi yang rumit karena orang yang berjiwa besar adalah orang yang memaafkan kesalahan orang lain. Menambahkan kutipan dari Bung Karno “ We were once a great nation and always will be a great nation !”.


oleh Anjar Suryo

11/13/12

Kegalauan Berdemokrasi (2)

lanjutan dari http://koneksiputus.blogspot.com/2012/11/kegalauan-berdemokrasi.html


Memasuki orde baru (1966-1998) demokrasi cukup berjalan stabil. Hal ini terbukti dengan sukses diadakannya 6 Pemilu ( 1971,1977,1982,1987,1992,1997). Pada masa itu rakyat menggunakan hak suaranya dengan memilih partai politik yang pilihannya itu-itu saja. Rakyat yang mulai mengerti masalah politik mencurigai adanya hal yang tidak beres. Banyak pertanyaan yang muncul mengenai transparansi pemilihan presiden. Pertanyaan – pertanyaan itu hanya menjadi perasaan tidak menentu yang tersirat dalam hati rakyat karena pemerintah selalu mengambil langkah tegas terhadap kritikan-kritikan yang ada. Begitu juga dengan pers yang dibatasi. Pada waktu itu orang merasa tidak bebas mengeluarkan pendapat. Bukankah salah satu ciri dari negara demokrasi adalah rakyat yang bebas mengemukakan pendapat?. Itu lah letak kegalauan pada orde baru. Seharusnya jika memang negara ini demokratis, kebebasan berpendapat tidak terkekang seperti itu. Krisis ekonomi dan KKN yang meluas menyebabkan gelombang demonstrasi yang besar. Rakyat menuntut adanya reformasi. Orde baru pun berakhir ditangan rakyat.

Masuk ke era reformasi dimana perbaikkan-perbaikkan dari kegagalan masa lalu dimulai. Pemerintah berkomitmen untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Pemerintah juga menjamin kebebasan pers. Di era ini demokrasi mulai terasa sampai tingkat RT. Di lingkungan RT saya pemilihan ketua RT dilakukan dengan cara pengambilan suara terbanyak oleh seluruh warga. Begitu juga dengan pemilihan ketua RW. Tidak hanya itu, di SMP saya dulu pemilihan ketua kelas dilakukan dengan pengambilan suara terbanyak. Sama halnya di SMA, saya ikut “mencontreng” kertas suara dalam pemilihan ketua OSIS. Di level terkecil pun iklim demokrasi Indonesia berjalan dengan baik. Semua orang ambil bagian dalam memilih pemimpin. Memang sudah seharusnya rakyat menentukan arah kehidupannya dan berpartisipasi dalam menentukan kebijakan.

Ada satu hal yang menjadi kegalauan berdemokrasi di era reformasi ini, yaitu apakah aspirasi rakyat sudah benar-benar tersalurkan atau belum?. Dewasa ini banyak rakyat yang demonstrasi menyalurkan aspirasi. Tapi banyak juga masyarakat yang merasa pemerintah belum menindaklanjuti aspirasi mereka. Dimana peran anggota DPR yang merupakan penampung aspirasi rakyat?. Bahkan sekarang banyak yang sudah tidak percaya dengan DPR karena tidak sedikit anggotanya yang tersangkut kasus korupsi. Rakyat yang sudah mulai mengerti demokrasi dikecewakan oleh wakilnya yang terkesan hanya ingin menimbun kekayaan. Hal tersebut membuat peran rakyat dalam menentukan kebijakan sangat minim. Kedaulatan yang katanya di tangan rakyat pun seolah-olah menjadi omong kosong.

Kegalauan berdemokrasi pada masa lalu terletak pada tidak jelasnya bentuk demokrasi itu sendiri dan masih awamnya rakyat mengenai demokrasi. Menurut Internasional Commision of Jurits, demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan oleh rakyat dimana kekuasaan tertinggi ditangan rakyat dan di jalankan langsung oleh mereka atau oleh wakil-wakil yang mereka pilih dibawah sistem pemilihan yang bebas. Intinya rakyat memegang penuh kedaulatan, presiden dan wakil rakyat adalah pengemban amanat rakyat. Namun yang terjadi pada masa lalu justru presiden dan parlemen lah yang dominan. Pada saat ini kondisinya lebih baik, rakyat lebih aktif mengawasi jalannya pemerintahan berdampingan dengan pers. Yang menjadi persoalan adalah masalah terputusnya aliran aspirasi rakyat.

Dahulu pada saat awal sistem demokrasi lahir terdapat bentuk demokrasi langsung. Sistem demokrasi langsung memungkinkan setiap warga negara mengemukakan pendapatnya secara langsung tanpa diwakilkan oleh orang lain. Di negara kota (polis) Athena, seluruh warga berkumpul dalam satu forum untuk mengutarakan pendapatnya masing-masing. Hal tersebut masih memungkinkan karena jumlah penduduk sedikit dan hanya laki-laki saja yang boleh menggunakan hak suaranya. Sekarang berkumpulnya seluruh rakyat Indonesia dalam satu forum merupakan hal yang hampir mustahil.

Sebenarnya dengan bantuan teknologi informasi dan komunikasi yang sudah maju kita bisa mengumpulkan aspirasi seluruh rakyat. Saat ini sudah banyak masyarakat yang mengenal internet dan dapat menggunakan alat komunikasi seperti handphone. Mengapa hal tersebut tidak dimanfaatkan?.

Sudah ada contoh penggunaan teknologi dalam berdemokrasi yaitu forum-forum diskusi di internet. Ada sebuah forum internet di Indonesia yang memiliki jumlah anggota sebanyak 4 juta. Diskusi dalam forum tersebut sangat rapih dan terorganisir dengan baik. Setiap anggotanya bebas berbagi dan mengeluarkan pendapat asal sesuai aturan. Yang menjadi tantangan adalah tidak meratanya perkembangan teknologi dan informasi di Indonesia. Untuk hal yang seperti itu diperlukan penanganan khusus. Saya yakin dengan menggunakan bantuan teknologi informasi dapat mengurangi terputusnya aliran aspirasi. Asalkan pemerintah memfasilitasi dan rakyatnya aktif berpartisipasi. Optimislah terhadap kemajuan demokrasi Indonesia kalau tidak mau mengikuti sistem monarkhi absolut dimana kekuasan ditangan raja secara penuh. Sambil menunggu sistem pemerintahan yang lebih baik, kita sempurnakan demokrasi yang sudah berjalan di Indonesia. Lebih baik ketimbang galau, bukan?. (selesai)

Kegalauan Berdemokrasi

Ini juga essay saya yang dikirim ke KEM 2012. Hasilnya gagal juga hehehe. Memang saya rasa juga tulisan yang ini kurang greget. Tapi saya ga tau yang mana yang kurang greget. Mungkin saya akan mengetahuinya setelah membaca komentar anda sekalian :P.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Galau merupakan kata yang banyak disebut-sebut oleh remaja Indonesia saat ini. Menurut definisi yang sebenarnya, galau berarti sibuk beramai-ramai. Pada era terkini kata galau memiliki makna lain yang berarti perasaan yang tidak jelas atau tidak menentu, perasaan bingung atau bimbang terhadap sesuatu. Sedangkan demokrasi merupakan suatu sistem politik yang menempatkan kedaulatan di tangan rakyat. Banyak yang berpendapat kalau demokrasi merupakan pilihan yang terbaik untuk rakyat. Ada benarnya pernyataan tersebut mengingat daripada tunduk dibawah kekuasaan monarki absolut lebih baik rakyat yang menentukan jalan hidupnya masing – masing. Apa yang terjadi jika kedaulatan itu dipegang oleh rakyat yang awam?. Saya rasa akan timbul benturan-benturan yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan rakyat tentang mengurus sebuah negara. Dari sanalah muncul suatu kegalauan dalam berdemokrasi di Indonesia.

Kegalauan berdemokrasi tidak hanya terjadi pada era reformasi. Dari awal terbentuknya negara ini sudah mengalamai berbagai gejala-gejala galau. Pada masa revolusi, demokrasi kita memang masih belum tertata dengan baik. Titik kegalauannya terjadi pada saat presiden di bantu oleh KNIP membidani MPR, DPR, DPA. Terbentuk kesan bahwa presiden merupakan pemegang kekuasaan penuh atas pemerintahan padahal dalam demokrasi kekuasaan berada di tangan rakyat. Untuk itu dikeluarkan maklumat wakil presiden No.X tanggal 16 Oktober 1945 tentang fungsi KNIP sebagai lembaga legislatif, maklumat pemerintah tanggal 3 November 1945 tentang pembentukan partai politik dan maklumat pemerintah tanggal 14 November 1945 tentang perubahan sistem pemerintahan presidensiil menjadi parlementer. KNIP yang beranggotakan para pendiri negara diposisikan sebagai wakil rakyat. Hal tersebut tidak terlalu bermasalah karena wakil rakyatnya merupakan orang – orang yang benar-benar ingin membangun Indonesia disamping rakyat Indonesia yang umumnya masih awan urusan kenegaraan.

Orde lama merupakan era terjadinya banyak kegalauan. Sistem pemerintahan silih berganti dimulai dari demokrasi liberal (1950 – 1959) kemudian sistem demokrasi terpimpin (1959-1966). Pada masa sistem demokrasi liberal, presiden hanya sebagai simbol negara. Banyak terjadi pergantian perdana menteri beserta kabinetnya dikarenakan kuatnya pengaruh parlemen. Jika ada perdana menteri yang bertentangan dengan parlemen maka langsung diganti. Kenyataannya parlemen juga gagal membentuk undang-undang pengganti UUDS 1950 sehingga sistem demokrasi liberal “dibunuh” dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Dimulai suatu babak baru sistem pemerintahan dengan diusungnya sistem demokrasi terpimpin. Dalam sistem ini, presiden memiliki kekuasaan dominan karena didukung oleh DPR-GR yang menggantikan parlemen sebelumnya. Bahkan oleh DPR-GR ini presiden ditunjuk sebagai presiden seumur hidup. Hal itu menimbulkan banyaknya protes dari kalangan intelektual. Pada saat itu juga paham komunis berkembang pesat. Banyak rakyat kecil yang memilih bergabung dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) karena partai tersebut dianggap lebih pro rakyat. Akhirnya sistem ini berakhir dengan adanya peristiwa G30S/PKI. Pergantian sistem pemerintahan pada orde lama memberikan kesan adanya perebutan kekuasaan antara parlemen dengan presiden. Apakah itu yang dinamakan demokrasi?. Dimana posisi rakyat yang seharusnya menjadi pemegang kedaulatan?.  Galau lagi. (bersambung)

Republic Of Heaven (2)

lanjutan dari republic of heaven


Jika diteliti lebih lanjut, penyebab konflik kemungkinan besar disebabkan karena adanya hasutan atau provokasi dari pihak yang tidak ingin melihat Indonesia damai. Selain itu kurangnya pengetahuan akan kebangsaan pada masyarakat dapat membuat masyarakat dengan mudah diadu domba. Ada juga orang yang terlalu memaksakan ide-idenya tanpa mau mendengarkan pendapat orang lain. Tidak sedikit ide – ide atau pemikiran yang dikemukakan cenderung mementingkan golongan sendiri daripada kepentingan bangsa. Mau tidak mau pemikiran seperti itu mendapatkan tentangan dan akhirnya berujung konflik. Sudah banyak contoh kasus dari adanya gesekan ide atau pemikiran seperti DI/TII, PRRI/Permesta, G30S/PKI, GAM, OPM dan lain-lain. Pergolakan-pergolakan seperti itu terus terjadi hingga detik ini. Masih ada saudara kita yang ingin berpisah dari NKRI karena merasa memiliki warna kulit yang berbeda. Hal tersebut sangat bertentangan dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang menghedaki diterimanya setiap perbedaan.

Masih ada waktu untuk memperbaiki semua ini sebelum “penyakit” ini meluas dan menjadi akut. Ada beberapa langkah yang harus bangsa ini ambil jika tidak mau hancur karena tidak mampu menyikapi perbedaan dengan bijak. Pertama, perlu ditanamkannya arti Indonesia yang sesungguhnya dengan memberikan wawasan kebangasaan pada generasi muda. Konsep kebangsaan Indonesia sudah terkandung dalam Pancasila dan pembukaan Undang – Undang Dasar 1945. Inti dari konsep tersebut adalah bangsa Indonesia menolak segala diskriminasi, suku, ras, asal-usul, keturunan, warna kulit, kedaerahan, golongan, agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kedudukan maupun status sosial[1]. Jadi jika kita berbicara tetang Indonesia, pikiran kita otomatis membayangkan negara yang bebas dari diskriminasi karena bangsanya dapat saling memahami dan memaklumi keberagaman. Konsep kebangsaan itu juga harus dijiwai sehingga kita akan selalu merasa bahwa kita adalah bangsa besar yang dengan arif dan bijaksana saling membantu tanpa melihat perbedaan.

Kedua, menjaga nilai-nilai kebersamaan yang sudah ada dari zaman sebelum kemerdekaan. Sejak dahulu bangsa Indonesia terkenal dengan budaya gotong-royongnya. Saling membantu sesama dengan ikhlas tanpa melihat latar belakang serta saling memberi tanpa melihat perbedaan agama dan suku. Saya sendiri merasa beruntung hidup dilingkungan yang cukup menjunjung tinggi kebersamaan. Tidak peduli dengan keturunan atau pun golongan, bila ada tetangga yang sedang kesusahan ya dibantu. Contoh nyata yang saya alami adalah ketika momen buka puasa bersama. Pada saat itu tidak hanya teman saya yang muslim saja yang membantu melancarkan acara tersebut tetapi juga teman saya yang non muslim. Mereka membantu dengan tenaga maupun dana. Saya menjadi lupa kalau saya sedang melepas rangkaian ibadah seharian yaitu berpuasa. Alangkah indahnya jika seluruh masyarakat Indonesia seperti ini.

Ketiga, diperlukan sebuah edukasi mengenai adanya upaya memburamkan dasar negara yang berujung pada tercerai berainnya persatuan dan kesatuan. Pada zaman sekarang perang tidak hanya dengan kontak fisik semata, melainkan dengan pemikiran-pemikiran yang dapat dengan mudahnya disusupkan kepada masyarakat awam. Kita bisa melihat banyak masyarakat dengan mudahnya terprovokasi untuk bertindak anarki. Pikiran manusia dimanipulasi untuk kepentingan seseorang dalam sebuah “perang”  yang menginginkan bangsa kita terpecah belah. Pemikiran-pemikiran tersebut ditanamkan diberbagai kesempatan dan tempat seperti di kampus, di terminal, di diskusi-diskusi tidak resmi dan lainya. Yang perlu menjadi pegangan bagi generasi muda adalah bahwa dalam kehidupan termasuk kehidupan bernegara pasti selalu ada pihak yang tidak senang dengan kedamaian dan kebahagiaan yang kita peroleh. Pihak yang tidak senang melakukan segala cara seperti provokasi untuk merusak kebahagiaan kita. Untuk itu bila ada suatu permasalahan lebih baik diselesaikan dengan mencari akar permasalahannya terlebih dahulu dengan pikiran yang tenang dan jernih. Biasakan kita bersikap kritis terhadap sesuatu yang menurut kita tidak sesuai dan diskusikan hal tersebut dengan orang yang kita percaya.

Ketiga hal tersebut menurut saya dapat meminimalisir terkikisnya kebhinnekaan di Indonesia. Dalam prakteknya ketiga hal tersebut dapat berarti jika semua komponen bangsa menjalankannya. Dari tokoh Balian dalam film Kingdom of Heaven, setidaknya dapat kita saksikan bahwa Balian sudah menjalankan poin kedua dan ketiga. Balian bergotong royong bersama pasukannya yang berasal dari berbagai latar belakang dan juga penduduk Jerusalem yang heterogen untuk mempertahankan kota Jerusalem. Selain itu Balian juga tidak terprovokasi dengan sikap fanatik Guy de Lusignan dan Reynald de Chatillon. Hasilnya kita dapat kita lihat di akhir film bahwa penduduk muslim dan non muslim dapat hidup bersama dengan damai. Semoga hal seperti itu juga tercipta di negeri ini, Republik Indonesia, Republic of Heaven.




[1] Soedito Adjisoedarmo, dkk, Jatidiri Unsoed, Purwokerto : Universitas Jenderal Soedirman, 2011, hlm.64.

Republic Of Heaven

Nah ini tulisan perdana setelah saya relaunch blog... Sebenarnya ini essay yang judulnya "Republic of Heaven" . ini tulisan yang saya kirim ke KEM 2012..tapi sayangnya gagal menembus kerasnya dunia tulis menulis hehehe..untuk itu saya publish disini supaya bisa dapat masukan dari pembaca sekalian.

oh iya, karena tulisannya panjang saya bikin part 1, part 2 dan seterusnya..
----------------------------------------------------------------------------------------------------------


Banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari sebuah film. Walaupun film itu dibuat untuk menghibur, tetapi ada pesan moral yang dapat kita petik. Dari ratusan judul film, Kingdom of Heaven adalah film yang paling menarik perhatian saya. Film tersebut tidak hanya menyajikan pertempuran yang dibungkus akting kelas wahid dan efek yang aduhai tetapi juga mengangkat sejarah yang pernah terjadi dan berpengaruh bagi umat manusia. Film ini diawali dengan kisah seorang tentara salib yang telah menjadi bangsawan di Timur Tengah bernama Godfrey de Ibelin. Sang bangsawan pulang ke negaranya untuk mencari anaknya yang telah lama ditinggalkan dan hendak mengajak anaknya ke Jerusalem, tempat perang salib berkecamuk.

Singkat cerita, Godfrey meninggal saat perjalanan kembali ke Jerusalem. Anaknya, Balian,  di angkat menjadi ksatria dan memimpin pasukan ayahnya serta mengurus sebuah tempat di Timur Tengah bernama Ibelin. Godfrey sempat memberi wejangan kepada Balian bahwa apapun yang terjadi lindungi orang yang lemah dan jangan pernah takut pada musuh. Balian mendapati ayahnya merupakan orang kepercayaan penguasa Jerusalem, Raja Baldwin IV, yang berhasil mempengaruhi sang raja untuk tidak menyatakan perang terhadap kaum muslim sehingga perdamaian di Timur Tengah tercipta. Untuk meneruskan cita-cita ayahnya itu Balian mendapat tentangan dari Guy de Lusignan dan Reynald de Chatillon. Kedua orang tersebut sangat fanatik dengan agamanya dan memiliki perilaku yang buruk. Suatu ketika, Guy dan Reynald berhasil memprovokasi pasukan Islam dengan membunuh pedagang muslim yang sedang dalam perjalanan bisnisnya. Tentu saja hal ini membuat pemimpin tentara Islam, Salahudin, terpancing untuk menyerang dan merebut kembali Jerusalem dari tentara salib.

Pada suatu saat Raja Baldwin IV wafat karena penyakit lepra. Hal tersebut membuat Guy de Lusignan yang merupakan kakak ipar sang Raja naik tahta. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Guy untuk memulai peperangan dengan tentara muslim. Perang tidak bisa dihindari lagi, tentara salib bukannya mempertahankan Jerusalem malah menyambangi perkemahan tentara muslim yang berjumlah sekitar 200.000 orang. Akibatnya tentara salib habis tidak tersisa. Balian yang tidak mendukung Guy de Lusignan, memilih tetap tinggal di Jerusalem  bersama pasukan yang setia padanya untuk mempertahankan kota tersebut. Dengan kercerdasannya, Balian mempersiapkan segala jebakan yang mampu membuat pasukan muslim gagal menembus dinding kota. Selama berhari – hari pasukan muslim yang jumlahnya jauh lebih besar dari pasukan Balian tidak mampu memasuki kota dan dibuat frustasi. Balian sebenarnya sadar bahwa dengan keadaan yang kalah jumlah pasukan, masuknya pasukan muslim ke Jerusalem hanya tinggal menunggu waktu. Namun, karena kegigihan Balian mempertahankan Jerusalem, Salahudin yang terkenal tanpa kompromi terpaksa mengadakan perjanjian dengan Balian. Ketika mengadakan perjanjian, Salahudin menanyakan apa alasan Balian mempertahankan kota yang bukan kampung halamanya itu. Balian mengatakan kepada Salahudin bahwa di kota itu terdapat anak kecil, orang tua dan perempuan yang wajib dilindungi. Mendengar pernyataan Balian, Salahudin lantas menjamin keselamatan penduduk Jerusalem baik itu muslim atau non muslim dan berjanji tidak akan membalaskan dendam muslim yang telah terbunuh oleh tentara salib. Kemudian kota Jerusalem jatuh ke tangan muslim tanpa adanya korban penduduk sipil. Tentara salib dan penduduk non muslim yang keluar dari kota dikawal sampai pelabuhan dengan aman oleh tentara muslim.

Apa yang membuat seorang pemimpin kharismatik nan tegas seperti Salahudin tidak membalaskan dendam umat muslim yang terbunuh?. Rupanya keteguhan hati Balian untuk melindungi orang lemah tanpa memandang ras, agama, suku dan bangsa yang membuat Salahudin mengurungkan niatnya untuk menyapu bersih kota Jerusalem berserta isinya. Dari sini dapat kita ambil hikmah bahwa sesungguhnya menerima dan menghormati perbedaan seperti yang dilakukan Balian dapat mewujudkan perdamaian dan menghindari jatuhnya korban. Lalu apa hubungannya dengan kebhinnekaan yang ada di Indonesia?. Dalam film terdapat konflik yang sebenarnya juga terjadi di Indonesia yaitu masalah perbedaan keyakinan. Walaupun konflik yang terjadi tidak sampai melecut perang saudara, tetapi konflik tersebut sudah mencederai keberagaman yang ada di Indonesia. Konflik seperti itu tidak hanya terjadi atas nama perbedaan keyakinan, namun meluas sampai pada perbedaan suku, ras, adat istiadat, bahasa bahkan politik.

Konflik – konflik seperti ini jika terus dibiarkan maka akan mengarah pada perpecahan. Jika sudah dalam kondisi seperti itu, bangsa lain dengan mudah mengambil kesempatan untuk menguasai kekayaan alam yang ada di Indonesia. Sungguh ironis memang, disaat bangsa kita sibuk berselisih dengan sesama, justru bangsa lain yang menikmati kekayaan Indonesia. Jadi jangan heran jika masih banyak rakyat Indonesia yang merasa masih terjajah padahal sudah merdeka. Yang terbaru terkait perselisihan pendapat sesama bangsa Indonesia adalah kasus yang terjadi di Sampang. Bagaimana bisa masalah pribadi dikaitkan dengan perbedaan pendapat dalam beragama?, sehingga menyebabkan dibakarnya rumah warga syiah. Tragisnya pelaku pembakaran masih terhitung tetangganya sendiri. Kejadian tersebut bukan yang pertama kalinya terjadi di Indonesia, banyak huru-hara beraroma SARA mulai dari kasus Cikeusik, gereja filadelfia, gerakan separatisme di beberapa daerah sampai konflik di Ambon. Semuanya membuat kebhinnekaan sama sekali tidak terlihat di Indonesia. Banyak orang menyuarakan dengan lantang bahwa kelompok atau golongannya yang paling benar. Orang yang di luar golongan mereka wajib disingkirkan. Kalau semua orang di Indonesia berwatak seperti itu, apa artinya bangsa Indonesia yang terkenal ramah dengan wisatawan asing tapi saling sikut dengan saudara sebangsanya?. (bersambung)